GMNI Bangkalan di Persimpangan: Bergerak atau Tertinggal Zaman

Bangkalan – Tujuh puluh dua tahun usia Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) seharusnya menjadi momentum refleksi yang jujur-bukan sekadar seremoni penuh nostalgia.

Terlalu lama GMNI terjebak dalam romantisme sejarah, mengulang nama besar Soekarno dan Marhaenisme tanpa keberanian menguji: apakah ideologi itu masih hidup, atau sekadar slogan kosong yang terus didaur ulang?

Faktanya, usia panjang tidak selalu berbanding lurus dengan kedewasaan gerakan. Justru di usia “ematang” ini, GMNI menghadapi krisis paling mendasar: krisis relevansi.

GMNI dan Ilusi Kejayaan Masa Lalu

Tidak bisa dipungkiri, GMNI memiliki warisan ideologis yang kuat. Namun, warisan itu hari ini lebih sering dijadikan alat legitimasi, bukan alat perjuangan. Marhaenisme kerap berhenti di ruang diskusi, mati di forum kaderisasi, dan tidak pernah benar-benar menjelma menjadi solusi konkret bagi rakyat kecil.

Lebih parah lagi, sebagian kader terjebak dalam pola lama: merasa paling ideologis, tetapi miskin inovasi. Retorika revolusioner masih lantang, tetapi tidak diiringi kapasitas intelektual dan kemampuan teknis yang memadai.

Di era kecerdasan buatan, big data, dan ekonomi digital, GMNI masih sibuk dengan pola gerakan konvensional yang semakin kehilangan daya tekan. Demonstrasi tanpa basis data, kritik tanpa solusi, dan gerakan tanpa dampak nyata hanya akan membuat GMNI ditinggalkan-bukan ditakuti, apalagi dihormati.

Bangkalan: Realitas yang Tak Bisa Ditutup-tutupi

Di tingkat daerah, khususnya Bangkalan, tantangannya jauh lebih konkret. Kemiskinan struktural, kualitas pendidikan yang timpang, dan problem tata kelola anggaran daerah bukan sekadar isu wacana-ini adalah realitas sehari-hari.

Pertanyaannya sederhana tapi menohok: Di mana posisi GMNI Bangkalan dalam problem ini?

Jika kehadiran GMNI hanya terasa saat momentum politik atau perayaan organisasi, maka organisasi ini sedang kehilangan arah. GMNI tidak boleh hanya hadir sebagai “penonton kritis” yang bersuara saat ramai, lalu menghilang saat dibutuhkan.

Dari Gerakan Moral ke Gerakan Kosong?

Selama ini GMNI sering membanggakan diri sebagai “gerakan moral”. Namun, istilah itu mulai kehilangan makna ketika tidak diikuti dengan dampak nyata. Moral tanpa tindakan hanya akan menjadi kemewahan retoris.

Sudah saatnya diakui: GMNI berisiko berubah dari gerakan moral menjadi gerakan simbolik-ramai di kata, lemah di karya.

Kritik untuk Kader: Kritis Saja Tidak Cukup

Kader GMNI hari ini tidak cukup hanya “kritis”. Kritik tanpa kapasitas hanya akan berakhir sebagai kebisingan. Dunia tidak membutuhkan lebih banyak orang yang pandai mengkritik, tetapi minim solusi.

Yang dibutuhkan adalah: Kader yang mampu membaca data, bukan sekadar opini. Kader yang bisa menyusun policy brief, bukan hanya poster aksi
Kader yang mampu masuk ke ruang-ruang strategis, bukan hanya turun ke jalan Jika tidak, GMNI akan kalah oleh generasi baru yang lebih adaptif, lebih pragmatis, dan lebih terampil secara digital.

Jalan Keluar: Berani Berubah atau Tertinggal

Jika GMNI, khususnya di Bangkalan, ingin tetap relevan, maka perubahan tidak bisa ditunda. Bukan perubahan kosmetik, tapi perubahan fundamental:

  1. Bongkar Pola Kaderisasi Lama
    Kaderisasi tidak boleh lagi hanya berisi doktrin ideologi tanpa keterampilan praktis. Harus ada penguatan riset, advokasi, dan kemampuan teknis.
  2. Tinggalkan Aksi Simbolik
    Aksi jalanan tetap penting, tetapi harus berbasis data dan berujung pada hasil. Jika tidak, itu hanya menjadi rutinitas tanpa makna.
  3. Fokus pada Dampak Nyata
    Program seperti pendidikan desa, advokasi hukum, dan pengawalan anggaran harus menjadi prioritas, bukan pelengkap.
  4. Kuasai Ruang Digital
    Jika GMNI gagal masuk ke ruang digital secara serius, maka ia akan kalah sebelum bertarung.
  5. Berani Mengkritik Diri Sendiri
    Ini yang paling sulit. GMNI harus jujur melihat kelemahan internal: elitisme kader, minimnya inovasi, dan kecenderungan seremonial.
    Penutup: Obor atau Abu?

Di usia ke-72 ini, GMNI berada di persimpangan: apakah tetap menjadi “obor penggerak” seperti yang sering digaungkan, atau perlahan berubah menjadi abu dari kejayaan masa lalu?

Bangkalan tidak membutuhkan organisasi yang hanya pandai mengenang sejarah. Yang dibutuhkan adalah gerakan yang hadir, bekerja, dan memberikan solusi.

Jika GMNI berani berubah, ia akan tetap relevan. Jika tidak, maka sejarah akan mencatatnya-bukan sebagai pelopor perubahan, tetapi sebagai organisasi yang gagal membaca zaman. (Penulis: Rahman, mahasiswa aktif Universitas Trunojoyo Madura (UTM) dan aktif sebagai aktivis GMNI). (Syaif)

Baca Lainya :

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Postigan Populer

spot_img