Jangan Berbangga Diri di Hari Raya Qurban, Kisah Nabi Ibrahim dan Ismail Penuh Tantangan Menguji Keimanan

BANGKALAN – Perayaan hari raya Idul Adha 1447 H /2026 menceritakan tentang sejarah asal mula kurban berawal dari lahirnya nabi Ismail A.S. Saat itu dikisahkan bahwa Nabi Ibrahim A.S tidak memiliki anak.

Kemudian nabi Ibrahim alaihis salam berdoa kepada Allah. Ya Allah Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang saleh.” (QS Ash-Shafaat (37).

“Sebelum masuk ke sejarah kurban, Ibadah kurban bisa dimaknai dengan sebuah bentuk kepasrahan seorang hamba kepada Allah untuk mendekatkan diri kepada-Nya.

Perintah untuk berkurban ini telah digariskan oleh Allah SWT dalam Alquran: “Sesungguhnya Kami telah memberikan nikmat yang banyak. Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu dan berkurbanlah.” (QS Al-Kautsar (108).

Idul Adha & Kurban: Umat Islam memperingati peristiwa tersebut dengan melaksanakan ibadah kurban pada hari raya Idul Adha (10 Zulhijah) serta hari Tasyrik (11, 12, dan 13 Zulhijah).

Makna Simbolik: Ritual ini bukanlah penyembelihan manusia (sakrifasi), melainkan bentuk kepatuhan, keikhlasan, dan sarana untuk mendekatkan diri (taqarrub) kepada Allah SWT.

    Andaikata dulu terjadi Nabi Ibrahim alaihis salam menyembelih Nabiyullah Ismail alaihis salam, bagaimana nasib manusia dikala datang hari raya idul Adha (lebaran kurban) tiap tahunnya.

  Manusia generasi penerus harus tahu diri dan sadar diri bahwa hidup ini penuh perjuangan dan pengorbanan tidak lain semata mengharap Ridha Allah SWT supaya mendapatkan rahmat-Nya.

   Kemudian manusia harus bersyukur kepada Allah SWT karena ritual penyembelihan Nabi Ismail putra Nabiyullah Ibrahim alaihis salam diganti dengan Kambing Kibas.

Namun disisi lain berkurban di hari raya idul Adha bukan hanya menyembelih Kambing melainkan unta dan sapi:

“Dalam sebuah hadits, Jabir bin Abdillah Ra berkata:
نَحَرْنَا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ عَامَ الْحُدَيْبِيَةِ الْبَدَنَةَ عَنْ سَبْعَةٍ وَالْبَقَرَةَ عَنْ سَبْعَةٍ

“Kami menyembelih bersama Rasulullah SAW pada tahun Hudaibiyah seekor unta untuk 7 orang dan seekor sapi untuk 7 orang.” (HR. Muslim).

Dalam Alquran telah dijelaskan “Fasholli lirobbika wanhar” (فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ) penggalan ayat ke-2 dari Surah Al-Kautsar. Artinya adalah “Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu, dan berkurbanlah”. 

Fasholli lirobbika: Perintah untuk menegakkan shalat hanya karena Allah SWT, sebagai bentuk rasa syukur atas segala nikmat yang telah diberikan-Nya.

Wanhar: Perintah untuk menyembelih hewan kurban. Dalam tafsir Ibnu Katsir, ini merujuk pada ibadah kurban yang dilakukan pada hari raya Idul Adha.

Dikisahkan sewaktu Nabi Ismail A.S mencapai usia remajanya Nabi Ibrahim A.S mendapat mimpi bahwa ia harus menyembelih Ismail puteranya. Mimpi seorang nabi adalah salah satu dari cara turunnya wahyu Allah SWT, maka perintah yang diterimanya dalam mimpi itu harus dilaksanakan oleh Nabi Ibrahim A.S. Nabi Ibrahim A.S pun akhirnya menyampaikan isi mimpinya kepada Ismail untuk melaksanakan perintah Allah SWT untuk menyembelih Ismail.”

“Ibrahim berkata : “Hai anakkku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu “maka fikirkanlah apa pendapatmu? Ismail menjawab: Wahai Bapakku kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu. InsyaAllah engkau akan mendapatiku termasuk orang yang sabar.” (QS Ash-Shafaat: 102)

Nabi Ismail meminta ayahnya untuk mengerjakan apa yang Allah perintahkan. Dan beliau berjanji kepada ayahnya akan menjadi seorang yang sabar dalam menjalani perintah itu. Sungguh mulia sifat Nabi Ismail A.S. Allah memujinya di dalam Al-Qur’an:

“Nabi Ibrahim lalu membaringkan anaknya dan bersiap melakukan penyembelihan. Nabi Ismail A.S pun siap menaati instruksi ayahnya. Nabi Ibrahim A.S dan Nabi Ismail A.S nampak menunjukkan keteguhan, ketaatan dan kesabaran mereka dalam menjalankan perintah itu.

Saat Nabi Ibrahim A.S hendak mengayunkan parang, Allah SWT lalu menggantikan tubuh Nabi Ismail A.S dengan sembelihan besar, yakni berupa domba jantan dari Surga, yang berwarna putih, bermata bagus, bertanduk.

“Hai Ibrahim, sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata.

Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar.” (QS Ash-Shafaat (37) : 104:107).

“Kejadian tersebut merupakan suatu mukjizat dari Allah yang menegaskan bahwa perintah pergorbanan Nabi Ismail A.S itu hanya suatu ujian bagi Nabi Ibrahim A.S dan Nabi Ismail sampai sejauh mana cinta dan ketaatan Mereka kepada Allah SWT.

Ternyata keduanya telah lulus dalam ujian yang sangat berat itu. Nabi Ibrahim A.S telah menunjukkan kesetiaan yang tulus dengan pergorbanan puteranya untuk berbakti melaksanakan perintah Allah SWT.

Pergantian Nabi Ismail dengan domba (kibas) adalah bentuk kasih sayang Allah SWT dan tebusan atas ketaatan Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail. Peristiwa ini menjadi dasar pensyariatan ibadah kurban yang diperingati umat Islam setiap Hari Raya Idul Adha.

Kisah ini mengajarkan bahwa manusia tidak boleh berbangga diri karena memiliki harta dan mampu berkurban karena sesungguhnya yang diperintahkan kepada nabi Ibrahim untuk menyembelih Nani Ismail bukan domba, dari sini kita harus berpikir lebih mendalam, Wallahu A’lam Bisshowab. (Kusnadi)

Baca Lainya :

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Postigan Populer

spot_img