SURABAYA – Ketua KAKI Jatim Moh Hosen angkat bicara menanggapi wacana pertandingan sepak bola yang akan mempertemukan antara Club Arema FC di gelaran BRI Liga 1 yang akan menjamu tamunya Persebaya Surabaya di Stadion Kanjuruhan, Malang.
Publik sepak bola tentu saja masih ingat akan Tragedi yang merenggut ratusan nyawa pascapertandingan Arema FC melawan Persebaya tersebut dinilai sebagai preseden buruk yang mencoreng dunia olahraga nasional sekaligus menunjukkan adanya kegagalan sistem keamanan di lapangan.
Dalam pernyataan resminya, Moh Hosen menyatakan bahwa peristiwa ini bukan sekadar musibah biasa, melainkan dampak dari kelalaian
koordinasi aparat keamanan,” ujarnya, Rabu (15/04/2026).
Diharap Kapolda Jatim Irjenpol Nanang Avianto dapat mengungkap kasus ini dengan tuntas totalitas, atau memundurkan diri dari jabatannya sebagai semeru 1 di Jawa Timur. Dalam artian kalau sudah tidak mampu menjalankan Amanah Undang Undang Nomor 2 Tahun 2002″ tegas Ketua KAKI Jatim.
Kami semua sangat menyayangkan jatuhnya ratusan korban jiwa akibat kepanikan yang dipicu oleh tembakan gas air mata ke arah tribun,” paparnya.
Padahal, aturan FIFA sudah sangat jelas melarang penggunaan gas air mata di dalam stadion,” tegas Moh Hosen saat ditemui di sekretariatnya Rabu 15 April 2026.
Lebih lanjut, pihak LSM KAKI Jatim menyoroti beberapa poin krusial yang harus segera ditindaklanjuti:
Audit Menyeluruh Standar Keamanan: Mendesak panitia pelaksana (Panpel) untuk memindahkan pertandingan arema vs persebaya yang akan dilaksanakan pada tanggal 28 April mendatang.
Jika Masih Dipaksakan digelar di Kanjuruhan malang maka pihak berwenang harus melakukan
Pertanggungjawaban Hukum yang akurat jika nanti nya terjadi hal serupa terulang kembali Meminta pemerintah dan Polri
“Kami tidak ingin tragedi ini berakhir hanya dengan permintaan maaf atau pemberian santunan. Harus ada reformasi total dalam manajemen sepak bola Indonesia agar nyawa manusia tidak lagi melayang sia-sia di atas rumput lapangan hijau,” pungkasnya.
Hingga saat ini, kejelasan tentang hilangnya 135 korban tragedi Kanjuruhan masih belum jelas dan desakan dari keluarga korban terus bergema menanti kejelasan. (A. Fandi).
